7  UAS-1 My Concepts

7.1 Perubahan Iklim sebagai Krisis Komunikasi Kolektif Umat Manusia

Climate

Perubahan iklim sering dipahami sebagai persoalan ilmiah: kenaikan suhu rata-rata bumi, emisi karbon, mencairnya es kutub, atau meningkatnya frekuensi bencana alam. Namun, pemahaman tersebut hanya menyentuh permukaan dari persoalan yang jauh lebih dalam. Dalam perspektif komunikasi dan sistem sosial, perubahan iklim adalah krisis koordinasi dan krisis komunikasi kolektif umat manusia.

Dunia saat ini tidak kekurangan data tentang perubahan iklim. Laporan IPCC, WHO, dan berbagai lembaga internasional telah berulang kali memperingatkan dampak serius krisis iklim terhadap kehidupan manusia. Ironisnya, meskipun informasi tersedia secara masif, respons global masih lamban, terfragmentasi, dan sering kali kontradiktif. Di sinilah letak masalah utamanya: pengetahuan tidak otomatis menghasilkan tindakan.

7.1.1 Krisis Makna di Tengah Limpahan Informasi

Salah satu keistimewaan pengetahuan yang saya tawarkan adalah melihat perubahan iklim sebagai persoalan makna bersama (shared meaning). Informasi ilmiah yang disampaikan tanpa kerangka komunikasi yang tepat sering gagal membangun keterlibatan emosional dan rasa tanggung jawab publik. Bagi sebagian masyarakat, perubahan iklim terasa terlalu abstrak, terlalu jauh, atau dianggap sebagai masalah generasi mendatang.

Akibatnya, pesan publik tentang iklim sering kalah oleh narasi lain yang lebih sederhana, lebih emosional, atau lebih dekat dengan kepentingan jangka pendek. Ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan lagi “apa yang harus kita ketahui”, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut dikomunikasikan agar dipahami, dipercaya, dan diinternalisasi.

7.1.2 Perspektif KIPP dalam Memahami Krisis Iklim

Dalam kerangka Komunikasi Interpersonal dan Publik (KIPP), perubahan iklim dapat dipahami sebagai kegagalan komunikasi lintas level: - Interpersonal, ketika individu tidak merasa terhubung secara personal dengan dampak iklim. - Kelompok dan komunitas, ketika percakapan tentang iklim terjebak dalam polarisasi atau apatisme. - Publik dan institusional, ketika pesan kebijakan tidak sinkron dengan realitas sosial dan budaya masyarakat.

Tanpa komunikasi yang membangun empati, kejelasan makna, dan rasa kepemilikan bersama, kebijakan iklim berisiko menjadi sekadar dokumen administratif tanpa daya transformasi.